Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan

JANGAN SAMPAI HIDUP INI MUBADZIR

Written By aZIS ASHARI on Rabu, 11 Desember 2024 | 08.04

         

Al-Qur'an menjelaskan kepada kita agar kita menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, bahkan kita menggunakan waktu itu untuk kegiatan yang produktif sehingga menghadirkan manfaat bagi diri sendiri bahkan kepada orang banyak. hal itu tersurat dalam surat al-Ashr ayat 1 sampai 3. Orang yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik dengan kerja-kerja produktif mereka akan rugi, waktunya mubadzdzir.

        Waktu itu sangatlah berharga, menyia-nyiakan waktu akan meghilangkan kesempatan yang seharusnya kita genggam. Orang yang tidak berbuat apa-apa dalam mengisi waktu-waktunya maka hakikatnya ia mati sebelum mati, hidupnya tidak ada nilainya. Kalau kita dalam kondisi seperti ini -menyia-nyiakan waktu- jangan berharap hal-hal besar akan terjadi. 

        Pada hakikatnya kesempatan itu selalu ada, selama kita bisa memanfaatkan waktu yang kita lalui untuk merengkuh kesempatan itu, tentu dengan tahapan-tahapan yang kita. Kesuksesan itu tidak bim salabim, tetapi ada proses, ada tahapan-tahapan, ada langkah-langkah, ada eksekusi ada hasil. oleh karenanya orang yang punya mimpi maka ia akan bangkit bangun dari tidur dan mengerjar mimpinya dengan mengisi waktunya dengan hal-hal baik, usaha yang kreatif, maka ia lebih dekat kepada keberhasilan meraih mimpinya. Tetapi jika belum punya mimpi kemungkinan ia akan tidur menghabiskan waktu untuk mendapatkan 'mimpi' dalam tidurnya. Selamat berjuang.

08.04 | 0 komentar

Senantiasa Berbuat Baik, Apapun Kondisinya

Written By aZIS ASHARI on Minggu, 08 Desember 2024 | 11.28

 Klik tautan kolom dibawah ini:👇

Senantiasa Berbuat Baik, Apapun Kondisinya



11.28 | 0 komentar

Doa Meminta Petunjuk, Ketaqwaan, Iffah dan Kekayaan

Written By aZIS ASHARI on Kamis, 18 Juli 2019 | 20.45

Pembaca yang budiman, kali ini pembaca sekalian akan kami perkenalkan dengan sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang ringkas namun padat maknanya. Demikianlah memang, salah satu keutamaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah beliau diberikan jawami’ al kalim, yaitu kemampuan untuk berkata-kata ringkas namun padat dan luas maknanya. Demikian pula dalam keumuman doa-doa beliau.
Berikut ini doanya:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam beliau biasa berdoa:
/Allaahumma innii as-alukal hudaa wat tuqaa wal ‘afaafa wal ghinaa/
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan)”
(HR. Muslim no. 2721, At Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900 dan yang lainnya).

Derajat hadits

Hadits ini shahih tanpa keraguan, semua perawinya tsiqah. Dan hadits ini juga dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, yang sudah cukup menjadi indikasi shahihnya hadits tersebut.

Penjelasan hadits

Dalam doa ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kita untuk memohon 4 hal, yaitu:
  1. Al Hudaa (petunjuk)
  2. At Tuqaa (ketaqwaan)
  3. Al ‘Afaaf (keterjagaan)
  4. Al Ghina (kekayaan)
Namun para ulama menjabarkan lebih luas makna dari 4 hal yang kita minta di sini. Al Mulla Ali Al Qari menjelaskan makna-makna: “Al Hudaa, artinya hidayah yang sempurna. At Tuqaa, artinya ketaqwaan yang menyeluruh. Al ‘Afaaf, dengan ‘ain di-fathah, artinya al kafaaf (kecukupan rezeki). Sebagian ulama mengatakan artinya adalah al iffah (terjaganya diri dari maksiat). Sebagian ulama mengatakan artinya keterjagaan diri dari yang haram. Dalam kamus Ash Shihah, ya’ifu – ‘affan, ‘iffatan, ‘afaafan artinya kaffun (kecukupan). Dan dinukil dari Abul Futuh An Naisaburi bawah ia berkata: ‘Al Afaaf artinya keshalihan jiwa dan hati’. Adapun al ghinaa artinya kekayaan hati, yaitu merasa cukup dari apa yang ada pada manusia” (Mirqatul Mafatih, 5/1721).
Imam An Nawawi juga menjelaskan, “Al ‘Afaaf dan al iffah artinya terhindar dari hal-hal yang tidak halal dan terjaganya diri dari hal tersebut. Adapun al ghinaa di sini adalah kekayaan jiwa, dan merasa cukup dari apa yang ada pada manusia dan apa yang ada di tangan mereka” (Syarah Shahih Muslim 17/41).
Ibnu ‘Allan Asy Syafi’i menjelaskan, “Al Hudaa, dengan ha di-dhammah dan dal di-fathah, artinya lawan dari kesesatan. At Tuqaa, dengan ta di-dhammah, maknanya taqwa. Yaitu isim mashdar dari ittaqaytullah itqaa-an, artinya adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Al ‘Afaaf, dengan ‘ain di-fathah dan dua huruf fa’, mashdar dari ‘affa, artinya terhindar dari segala maksiat dan keburukan. Al Ghinaa, dengan ghain di-kasrah dan dalam bentuk qashr, artinya tidak ada perasaan merasa butuh kepada makhluk” (Dalilul Falihin, 7/275).
Dengan demikian jika kita ringkas dari penjelasan-penjelasan di atas, 4 hal yang diminta dalam doa ini adalah:
  1. Al Hudaa, yaitu petunjuk yang sempurna dari Allah untuk menjalani jalan yang lurus
  2.  
    At Tuqaa, yaitu ketaqwaan yang menyeluruh dalam semua hal, dalam menjalankan perintah agama dan menjauhi yang dilarang dalam agama
  3. Al ‘Afaaf, yaitu keterjagaan dari melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama dan hal-hal yang tidak halal, sehingga hati dan jiwa kita menjadi shalih.
  4. Al Ghina, yaitu kekayaan hati, sehingga tidak merasa bergantung dan terlalu mengharapkan apa yang ada di tangan manusia, melainkan bergantung dan berharap pada apa yang ada di tangan Allah
Pembaca yang budiman, mengapa al huda dan at tuqaa lebih didahulukan untuk diminta? Nah, ketahuilah bahwa ternyata urutan dari 4 hal yang diminta tadi pun ada rahasianya. Simak penjelasan Ibnu ‘Allan berikut ini: “Al Huda (petunjuk) didahulukan karena dialah landasan, dan ketaqwaan dibangun di atasnya. Sedangkan digandengkannya al ‘afaaf kepada al huda, ini merupakan penggandengan sesuatu yang khusus kepada sesuatu yang umum, dalam rangka menegaskan hal yang khusus tersebut. Karena nafsu, memiliki kecenderungan untuk mengajak kepada lawan dari al ‘afaaf (yaitu maksiat dan keburukan). Maka seorang hamba hendaknya meminta pertolongan Allah untuk meninggalkannya. Nah, setelah sempurna permintaan-permintaan yang terkait dengan agama, maka selanjutnya permintaan ditujukan untuk sebagian perkara dunia, yaitu al ghinaa, merasa cukup atau tidak ada perasaan merasa butuh kepada makhluk” (Dalilul Falihin, 7/275).
At Thibbiy juga menjelaskan rahasia lainnya, “Dimintanya al huda dan at tuqaa secara mutlak untuk meraih petunjuk yang semestinya diterapkan dalam mendapatkan penghidupan, perbekalan dan akhlak-akhlak mulia. Dan juga petunjuk untuk menghindari apa-apa yang semestinya dijauhi dalam melakukannya, baik baik berupa syirik, maksiat dan akhlak-akhlak tercela. Adapun meminta al ‘afaaf dan al ghina adalah penyebutan yang lebih khusus setelah disebutkan yang lebih umum” (dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 9/324).
Subhaanallah… ternyata doa yang singkat ini adalah doa yang mengumpulkan hal-hal yang bisa meraih banyak kebaikan agama dan kebaikan dunia bagi seseorang. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di juga menjabarkan bagaimana dahsyatnya doa ini, beliau berkata: “Doa ini merupakan diantara doa yang paling padat dan paling bermanfaat. Karena di dalamnya terkandung permintaan kebaikan agama dan kebaikan dunia. Sebab, yang dimaksud al hudaa adalah ilmu yang bermanfaat, at tuqaa adalah amal shalih dan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan dua hal ini, terwujudlah kebaikan agama. Karena hakikat agama adalah ilmu yang bermanfaat dan pemahaman yang benar, dan inilah al hudaa, serta menegakkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan inilah at tuqaa.
Sedangkan permintaan al ‘afaaf dan al ghina mengandung ketercukupan diri dari makhluk dan tidak bergantungnya hati kepada mereka. Lalu merasa cukup dengan Allah dan rizki dari Allah, serta qana’ah dengan apa yang diberikan Allah, dan meminta segala kecukupan yang bisa membuat hati seorang hamba tenang. Dengan semua ini, sempurnalah kebahagiaan dunia dan kelapangan hati. Inilah kehidupan yang thayyibah. Barangsiapa yang diberi rizki oleh Allah berupa al hudaa, at tuqaa, al ‘afaaf dan al ghinaa ia telah mendapatkan dua kebahagian dan ia mendapatkan semua yang hal diinginkan serta terhindar dari semua hal yang tidak disukai. Wallahu a’lam” (Bahjah Qulub Al Abrar, 205).
Menariknya di sini As Sa’di menjelaskan bahwa hidayah adalah ilmu dan taqwa adalah amal shalih. Seseorang dikatakan mendapatkan hidayah ketika ia berilmu, dan bertaqwa ketika mengamalkan agama berdasarkan ilmu. Bukan karena ikut-ikutan, hawa nafsu atau berdasarkan opini masing-masing. Oleh karena itu, Thalq Bin Habib Al’Anazi mengatakan:
العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ
“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah” (Siyar A’lamin Nubala, 8/175).
Demikian, mudah-mudahkan kita diberi hidayah oleh Allah untuk dapat mengamalkan doa ini dalam keseharian kita. Terutama dibaca di waktu-waktu yang mustajab seperti ketika sepertiga malam yang akhir, di antara adzan dan iqamah, diwaktu bersujud atau sebelum salam dalam shalat, ketika hujan dan waktu-waktu mustajab lainnya. Semoga kita diantara para hamba yang mendapatkan kebahagiaan dunia dan kelapangan hati. Wabillahi at taufiq wa sadaad.
***
Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.or.id


Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/27205-doa-meminta-petunjuk-ketaqwaan-iffah-dan-kekayaan.html
20.45 | 0 komentar

Silahkan Kaya, Jika Anda Bertaqwa!

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Dari Abdullah bin Hubaib, dari pamannya yang merupakan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menceritakan,
Kami pernah duduk bersama, tiba-tiba muncul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan wajah berseri-seri.
’Ya Rasulullah, kami lihat anda sangat ceria hari ini.’ tanya kami.
”Benar, alhamdulillah.” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu beliau bersabda,
لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنْ اتَّقَى اللهَ، وَالصِّحَّةُ لِمَنْ اتَّقَى اللهَ خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ
Tidak masalah memiliki kekayaan bagi orang yang bertaqwa kepada Allah. Sementara kesehatan bagi orang yang bertaqwa kepada Allah, lebih baik dari pada kekayaan. Dan jiwa yang tenang termasuk kenikmatan. (HR. Ahmad 23158, Ibnu Majah 2141, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).
Semua yang ada di sekitar kita, berpotensi untuk menjadi sumber kebaikan, sebaliknya juga berpotensi menjadi sumber fitnah, ujian, dan kebinasaan. Ini semua kembali kepada siapa yang mengendalikannya. Ketika harta ini berada di tangan orang yang bertaqwa, dia tidak akan menjadi sumber bencana.
Dalam Nawadir al-Ushul, As-Suyuthi menjelaskan hadis ini,
الغنى بغير تقوى هلكة يجمعه من غير حقه ويمنعه من حقه ويضعه في غير حقه فإذا كان هناك مع صاحبه تقوى ذهب البأس وجاء الخير
Orang yang kaya tanpa bertaqwa, akan menjadi sumber kebinasaan. Dia mengumpulkan harta dari yang tidak berhak, menghalangi apa yang menjadi haknya, digunakan untuk sesuatu yang tidak benar. Berbeda ketika harta bersama orang yang bertaqwa, bahaya ini akan hilang dan mendatangkan kebaikan. (Hasyiyah as-Sindi untuk Sunan Ibn Majah, 4/370).
Di saat itu, kekayaan bagi orang yang bertaqwa, akan menjadi sumber pahala. Karena dia bisa bersabar dengan ujian kekayaannya, dan bisa menunaikannya dengan benar.
Al-Munawi menukil keterangan Muhammad bin Ka’ab,
الغني إذا اتقى آتاه الله أجره مرتين لأنه امتحنه فوجده صادقا وليس من امتحن كمن لا يمتحن
Orang yang kaya, jika dia bertaqwa, Allah akan memberikan pahala dua kali. Karena Allah mengujinya dan dia berhasil dalam ujian itu. Sementara orang yang diuji tidak seperti orang yang tidak diuji. (Faidhul Qadir, 6/496).

Hiasi Dengan Ilmu Agama

Tidak salah jika ilmu merupakan modal utama untuk menjadi bertaqwa. Karena ilmu merupakan pengendali dan menjaga setiap aktivitas pemiliknya. Sehingga, keluar masuknya harta di tangan orang paham agama, akan dikendalikan oleh syariat yang diketahuinya.
Ali bin Abi Thalib berpesan,
العلم خير من المال , العلم يحرسك وأنت حرس المال ، والعلم حاكم والمال محكوم عليه
Ilmu lebih baik dari pada harta. Ilmu menjagamu, sementara harta kamu yang jaga. Ilmu yang mengendalikan, sementara harta yang dikendalikan.
Untuk itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan hubungan ilmu dengan harta dalam 4 tipe manusia. Beliau bersabda,
إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
Dunia menjadi milik 4 jenis manusia
  1. Hamba yang Allah berikan rizqi dan ilmu. Dia gunakan hartanya untuk bertaqwa kepada Allah, untuk menyambung silaturahim, dan menunaikan hak Allah dengannya. Dia berada di tingkatan paling tinggi
  2. Hamba yang Allah beri ilmu, namun tidak diberi harta. Dia memiliki niat yang jujur, hingga dia mengatakan, ’Andai aku punya, saya akan beramal seperti yang dilakukan oleh si A.’ Dia niatnya ini, mendapatkan pahala niat yang sama dengan orang pertama.
  3. Hamba yang Allah berikan harta, namun tidak Allah beri ilmu. Dia habiskan hartanya tanpa aturan, sama sekali tidak untuk mendukung taqwa kepada Allah, tidak untuk menyambung silaturahim, dan tidak pula memperhatikan hak Allah di dalamnya. Ini kedudukan paling hina.
  4. Hamba yang tidak Allah beri harta maupun ilmu. Dia hanya bisa berangan-angan, ”Andai aku punya harta, saya akan melakukan seperti yang dilakukan si B.”  Dia niatnya ini, mendapatkan dosa niat yang sama dengan orang ketiga.
(HR. Ahmad 18031, Turmudzi 2325, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).
Pelajarilah syariat, wahai para pemilik harta, semoga anda menjadi orang kaya yang bertaqwa…
Allahu a’lam, semoga bermanfaat.


Read more https://pengusahamuslim.com/4426-silahkan-kaya-jika-anda-bertaqwa.html
20.01 | 0 komentar

Inspirasi Ilmu

TRAVELING

MENJADI PRIBADI YANG BERMANFAAT

Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah sabdanya menyampaikan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Kebermanfaatan itu tentu meliputi berbagai aspek sesuai dengan kapasitas dan kemampuan manusia. Manusia telah diberi kemampuan yang berbeda agar satu sama lain dapat memberi manfaat. ada yang bermanfaat dengan hartanya, dengan jabatannya, dengan ilmunya, dengan pemikirannya, dengan tenaganya. Pertanyaannya, apakah yang akan menjadi jalan kebermanfaatan kita?

RUMAH QURAN MULIA

KOLOM BERITA

UAZA TV

AZIS ASHARI AKADEMIA


Go Zakah